Minggu, 11 Mei 2008

Kebangkitan Dalam Keterbatasan

Suatu malam tgl 12 mei 2008 saya sedang menyaksikan suatu acara yang sangat menggugah hati. Betapa tidak, dalam keterbatasan fisik yang ia alami masih bisa menjadi bahan inspirasi dan semangat orang-orang yang sepenanggungan dangan dirinya. Ialah Sugeng Siswoyudhono yang pada saat berusia 19 tahun kehilangan satu kaki akibat kecelakaan lalu lintas, tapi itu dulu saat ia harus menghapus cita-citanya menjadi tentara dan ia harus melanjutkan hidup dengan bantuan kaki palsu. Karena sering gonta-ganti kaki palsu, akhirnya Sugeng belajar sendiri untuk membuat kaki palsu. Sugeng yang selalu kreatif sering membuat terobosan-terobosan baru dalam pembuatan kaki palsu. Kini ia sudah memiliki sejumlah anak buah untuk membantunya mengerjakan kaki palsu pesanan. Tidak sedikit orang yang sepenanggungan dengan dirinya ingin sekali meminta Sugeng untuk membuatkan dirinya kaki palsu, sebut saja Harry Priyanto asal Pamulang, Jakarta yang pada tahun 2005 mengalami kecelakaan dan dapat bertahan dengan sejumlah pen, di tahun yang sama Ahmad Kosasih seorang guru yang juga mengalami kecelakaan hanya dengan bantuan kruk ia bisa bertahan hidup dari keterbatasannya, belum lagi Nova dan Hikmah yang ingin sekali memberikan kaki palsu buat sang ayah mereka sebagai bukti dari keberbaktiannya selama ini.
Kisah Sugeng ini telah manjadi semangat bagi yang pada malam itu ikut menyaksikan acara di suatu televisi swasta tersebut. Selain Sugeng kini telah kebanjiran order kaki palsunya tersebut sosok dari mojokerto ini membintangi iklan jamu di televisi. Dalam kesempatan yang sama, acara realiti show ini juga akan menggalang 1000 kaki palsu gratis bagi seluruh rakyat Indonesia yang memerlukan, dengan di bantu oleh 4 sponsor utama dan masih di buka donatur yang ikut mensponsori program ini, kenapa acara ini hanya menggalang 1000 kaki palsu saja, ini di ambil dari istilah yang sering di gunakan dalam bahasa jawa yang artinya banyak, sebagai contoh adalah pulau seribu, cemara sewu, candi sewu, dll. Tidak berhenti di situ saja, pada program ini pun juga diundang MENRISTEK atau mentri riset dan teknologi Kusmayanto Kadiman yang siap membantu Sugeng dalam penyelesaian progran ini seperti bahan apa yang cocok hingga di dapat kenyamanan bagi yang menggunakannya. Dalam program ini ada tiga kebangkitan yang dapat dirasakan bagi penyandang cacat fisik ini menyangkut 100 tahun kebangkitan nasional, kebangkitan yang pertama adalah kebangkitan fisik, karena yang dulunya ia tidak bisa berjalan maka sekarang telah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat atau alat bantu yang lainya, kebangkitan kedua adalah kebangkitan mental, mental yang sebelumnya sangat rapuh bisa dikarenakan kurang atau hilangnya kepercayaan diri sedikit demi sedikit bertambah dengan adanya kaki palsu ini, kebangkitan yang ketiga adalah kebangkitan ekonomi, kebangkitan ini jelas akan terlihat jika ia sudah dapat berjalan tanpa bantuan apapun dan telah ada juga rasa percaya diri yang kuat maka ia juga bisa bekerja seperti menusia normal lainnya.Dalam mengisi kemerdekaan ini kita dapat melakukan apapun yang bisa membantu sesama, seperti dalam pengadaan program ini yang sangat membantu sebagian orang di luar sana. kebangkitan nasional dapat terjadi jika manusia yang berada dalam suatu negara ini menjadi aktiv dalam mengisi kemerdekaan.

Kehadiran Ruang Multimedia di FKIP UNLAM

Dilatarbelakangi oleh keinginan fakultas yang telah menelurkan tenaga pengajar profesional ini untuk mempergunakan dana mahasiswa demi kepentingan mahasiswa pada khususnya dan kepentingan bersama pada umumnya, bp. Drs.Daud Pamungkas selaku dosen PBSID FKIP dan juga sebagai pengelola utama ruangan ini menginginkan mahasiswa dapat merasakan uang semester yang mereka keluarkan dan juga bisa sedikit menghemat pengeluaran bulanan mahasiswa sering kebobolan setiap harus ke warnet untuk mencari bahan kuliah ataupun tugas-tugas lainnya. Dengan kehadiran ruangan multimedia di FKIP yang di dalamnya ada 10 komputer tanpa printernya yang siap meng-up date segala keinginan mahasiswa karena sudah di lengkapi dengan internet, LCD, kipas angin dan AC, kursi, meja, lemari buku, televisi 21" , dispenser-meski hanya dosen yang mempergunakannya-juga berbagai buku. Dengan adanya ruangan yang menjadi tempat mengasyikan untuk mencari bahan karena tidak perlu bingung harus keluar uang tetapi ruangan ini juga menjadi kontrofersi, mengapa? karena ruangan ini saking lengkapnya hingga menjadi 3 fungsi sekaligus yaitu sebagai ruang internet gratis, ruang kuliah (ruang 17) juga menjadi ruangan perpustakaan PBSID atau mungkin karena multifungsi ini maka ruangan ini di sebut ruang multimedia, saya juga tidak mengerti. Jika saja fakultas lebih memperhatikan hal ini tentu saja tidak ada lagi yang terganggu kuliahnya terutama pada hari senin, selasa, jumat, dan sabtu yang lumayan padat ini karena kehadiran "pihak lain", selain itu juga bisa mengelola perpustakaan PBSID dengan lebih baik lagi, ruangan ini bisa tertata dan terjaga kebersihannya. Ketidakadaan organisasi yang jelas atau kurang aktifnya pengurus juga bisa saja menjadi suatu hal yang sangat disayangkan, karena kehadiran ruangan ini bisa saja cepat berlalu dan hanya menjadi sejarah fakultas jika tidak segara di benahi.
Ruangan yang seharusnya menjadi nyaman karena kelengkapan fasilitas malah menjadi sangat kotor, internet yang sempat tidak koneksi beberapa saat jika Bp. Daud tidak ada di tempat.Agar ruangan yang sudah begitu menguntungkan ini akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman bagi mahasiswa, ruangan yang rapi, bersih, ada pemisahan ruang antara ruang internet, perpustakaan dan juga ruang kuliah (ruang 17) ada pertanggungjawaban atas semua ini, ada daftar pengguna internat dangan batasan waktu yang jelas agar dapat bergantian dangan yang lain inipun tidak terlepas dengan kesadaran mahasiswa itu sendiri menggunakan fasilitas yang sudah di sediakan fakultas.